“Aksi bela Muslim” ala Silicon Valley

Salah satu ciri bangsa yang kuat adalah melindungi anggotanya yang vulnerable, sekalipun cuma minoritas. Bangsa Amerika sedang berjuang membuktikan hal ini.

27 Januari lalu, Presiden AS Donald Trump mengeluarkan executive order -mungkin semacam Keppres di Indonesia – untuk membatasi masuknya warga negara dari Iran, Irak, Suriah, Yaman, Somalia, Sudan, Libia. Entah kebetulan atau bukan, ketujuhnya negara mayoritas Muslim, dan entah ada hubungannya atau bukan, pada masa kampanye Trump pernah menyerukan “total and complete shutdown” terhadap masuknya orang Muslim ke Amerika Serikat.

Executive order ini langsung berdampak ke banyak orang, karena bahasa perintahnya mencakup puluhan ribu orang yang sudah secara legal tinggal dan bekerja di AS. Sekarang mereka terancam tidak bisa kembali ke rumah dan keluarganya di AS, atau malah terkurung di AS karena takut tidak bisa masuk lagi. Selain itu, perintah ini juga menghentikan pengungsi dari Suriah yang negaranya jelas-jelas sedang dilanda perang saudara dan butuh bantuan. Tak kalah parahnya, dikhawatirkan ini hanyalah langkah pertama sebelum Trump perlahan-lahan memenuhi janji kampanyenya terhadap orang-orang Muslim. Saya sendiri juga was-was, apakah nantinya Indonesia akan masuk daftar juga dan masa depan saya bisa jadi tidak jelas.

Yang bikin terharu adalah reaksi orang-orang Amerika ini. Pada dasarnya, bangsa Amerika Serikat terdiri dari orang-orang yang menganut berbagai agama, berimigrasi atau memiliki asal keturunan dari negara lain. Mereka tidak ingin kalau Trump merusak ini. Pengacara dari ormas-ormas langsung bekerja keras dan hasilnya keesokan harinya beberapa pengadilan memerintahkan penundaan perintah Trump sebelum sidang dilakukan untuk menentukan apa perintah ini sah. Warga melakukan aksi damai di bandara-bandara tempat para pendatang ditahan atau dideportasi. Media memberitakan kisah-kisah penderitaan yang disebabkan executive order ini. Dari anggota DPR sampai CEO perusahaan-perusahan teknologi ramai mengecam dan mencari cara untuk menghentikan aturan baru ini.

Kantor saya sendiri di Google juga tak kalah. Walaupun executive ordernya dikeluarkan pada Jumat sore waktu California (ketika weekend dimulai), berbagai pihak langsung bereaksi. Resources perusahaan dikerahkan untuk membantu karyawan dan keluarganya yang terjebak di luar negeri. Forum-forum internal, termasuk yang biasanya dipakai untuk lucu-lucuan, dipenuhi karyawan -dari berbagai bangsa dan agama, yang dengan spontan meluapkan reaksi marahnya dan menyampaikan pesan simpati terhadap karwayan-karyawan Muslim terutama dari negara yang masuk daftar Trump. Pak CEO mengeluarkan statement, dan co-founder Sergey Brin sendiri ikut demo di Bandara San Francisco.

Menjelang masuk kantor lagi hari Senin, muncul kabar bahwa akan ada aksi damai. Aksi ini digagas oleh para karyawan grassroot yang merasa ingin menyalurkan aspirasi – tanpa organisasi dari para petinggi perusahaan. Lalu pada jam yang direncanakan hari Senin, para karyawan yang sedang sibuk ngoding maupun kerjaan lain, ramai berjalan keluar kantor. Saya pun berangkat bareng teman Indonesia yang kebetulan satu bangunan. Dari tiap bangunan keluar beberapa gerombol, ke pekarangan gedung utama Googleplex. Entah kenapa melihat gerombolan seperti ini saya jadi ingat kayak lebaran di Indonesia orang ramai-ramai ke lapangan.

Aksi damai dilakukan di halaman utama Googleplex, salah satu landmark kompleks Google yang bisa dilihat di foto-foto turis atau bahkan di film The Internship. Seumur hidup saya belum pernah demo, sebelumnya tidak menyangka kalau akan demo di Amerika membela orang Muslim bersama-sama dengan teman-teman kantor dari berbagai negara dan agama. Buru-buru saya bikin tulisan di kertas untuk dipegang, dan sekalian bawa peci untuk dipakai.

googlerTernyata yang datang banyak sekali. Saya bukan ahli memperkirakan jumlah peserta demo, tapi menurut media yang melaporkan kira-kira ada 2.000 orang di halaman itu. Banyak yang membawa kertas bertuliskan simpatik terhadap Muslim maupun imigran. Orasi pun dilakukan – dimulai dari karyawan dari Iran yang menceritakan pengalamannya baru saja lolos lubang jarum imigrasi berkat bantuan perusahaan yang standby 24 jam selama weekend. Sekalipun aksi ini digagas oleh grassroot, petinggi perusahaan ikut hadir. Sundar Pichai menyampaikan kegiatan dan rencana perusahaan menghadapi kebijakan ini. Lalu co-founder Sergey Brin, yang sebelumnya juga ikut aksi demo di bandara San Francisco, juga berorasi. Ia bercerita kalau ia lahir di Uni Soviet dan berimigrasi ke Amerika sebagai pengungsi, di zaman perang dingin ketika Uni Soviet adalah ancaman terbesar terhadap Amerika. Walaupun pada saat itu ancaman perang nuklir ada di benak semua orang, Amerika dengan berani membuka pintunya kepadanya dan pengungsi-pengungsi lain. Para peserta aksi langsung setuju – tanpa keberanian dan keterbukaan ini, tentu tidak akan ada cerita sukses Sergey dan Google. Setelah aksi selesai semua bubar dengan tertib dan bekerja kembali.

Aksi-aksi seperti ini, baik di kantor saya maupun di bandara-bandara, jalan-jalan dan pengadilan-pengadilan Amerika, bagi saya heartwarming sekali. Ciri bangsa yang kuat adalah melindungi anggotanya yang vulnerable, sekalipun cuma minoritas. Bangsa Amerika sedang berjuang membuktikan ini. Walaupun Trump sekarang menjadi presiden – tidak semua sikapnya itu disetujui warganya. Mudah-mudahan semangat rakyat, maupun sistem check and balances yang sudah berabad-abad dikembangkan dalam tata negara Amerika, bisa mengarahkan pemerintah agar tidak semena-mena.

 

Advertisements
“Aksi bela Muslim” ala Silicon Valley

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s